oleh

Nason Utti, Juru Parkir Yang Jadi Legislator

Kawattimur, Tidak ada yang bisa menebak nasib seseorang kecuali Tuhan. Manusia punya  rencana tapi Tuhan yang menentukan. Mungkin dua kalimat itu sangat tepat ditujukan bagi sosok Nason Utti. Bagaimana tidak, dulu putra adat Mepago itu hanya seorang juru parkir yang beroperasi  disepanjang Jalan Percetakan dan Jalan Irian Kota Jayapura Papua. Kini menjadi legislator di parlemen DPR Papua. Dulu kalau bekerja dibawah terik matahari dan guyuran hujan saat menata parkiran serta nasibnya tak menentu, kini bekerja diruang sejuk dengan pendingin udara dan menjadi salah satu representasi sekaligus penentu nasib rakyat Papua.

Nason Utti telah membuktikan dirinya mampu membalikan keadaan,  yang nasibnya dulu tak menentu, kini menjadi salah satu penentu nasib banyak orang. Semua itu lahir dari kerja keras pantang menyerah, perjuangan yang melelahkan dan yang pasti selalu dalam bimbingan Tuhan. “Jalannya berliku penuh tantangan, tapi kalau punya tekad, fokus dan selalu bertanggung jawab serta selalu minta bimbingan Tuhan, kita pasti bisa mengubah keadaan,”ungkap Nason.

Menurut Nason, dirinya tak menyangka akan menjadi seorang politisi seperti saat ini. “Awalnya saya hanya aktif berorganisasi di Gereja, pasca kuliah, lalu jemaat mendorongnya terjun ke parpol menjelang Pemilu 2009, ternyata masyarakat mempercayai untuk duduk di parlemen,”ujar Nason yang saat pertama kali menjadi anggota DPR Papua melalui Parpol Barnas.

Nason Utti bersama Gubernur Papua Lukas Enembe

Pria berambut gimbal terkesan garang namun sangat ramah, supple dan memiliki rasa kepedulian yang tinggi serta suka membantu mengatakan,  dibalik semua perjuangan dan pengorbanan pasti ada
harapan atau asa. “Apa yang kita perjuangkan dengan sepenuh hati, suatu saat pasti membuahkan hasil sesuai yang kita impikan,”tukasnya.

Nason menceritakan, perjuangan hidupnya dimulai saat merantau ke Kota Jayapura tahun 1999. Ia meninggalkan kampung halamannya Paniai untuk mencoba mengubah nasib. Tapi kerasnya persaingan hidup di Kota Jayapura membuatnya harus melakoni pekerjaan sebagai juru parkir. “Bagaimana lagi, kalau tidak kerja berarti tidak makan, saat itu pekerjaan yang ada hanya jadi juru parkir, saya lalu melakoninya dengan sepenuh hati,”ucap Nason.

Karena Nason meyakini bahwa pendidikanlah yang bisa mengubah nasib seseorang, ia lantas mendaftar menjadi salah satu mahasiswa perguruan tinggi swasta.  “Untuk biaya mendaftar kuliah, hasil dari juru parkir yang ditabung sedikit demi sedikit,”ungkapnya.

Dunia kampus ternyata membentuk karakter Nason Uti baik dalam bergaul maupun berorganisasi. Dan yang terpenting dirinya mampu selesai dari bangku kuliah dengan menyandang S1 Sarjana Ekonomi. “Biaya  kuliah selama 5 tahun dari hasil dari juru parkir, jadi saya sangat bersyukur pada Tuhan,”paparnya.

Nason Utti saat bercengkrama dengan pengecer koran di Jayapura

Selesai dari bangku kuliah, Nason Uti kemudian aktif di organisasi Gereja. Pemilu tahun 2009 ia terpilih menjadi anggota DPR Papua untuk 5 tahun ke depan. Periode pertama menjadi legislator, Nason Utti sangat peduli dengan nasib rakyatnya di Paniai sebagai basis darah pemilihannya. Beberapa kali terjadi bencana di wilayah Pegunungan selatan Papua itu, Nason Utti langsung turun tangan memberikan bantuan maupun advokasi.

Sikapnya yang sangat peduli dan kerap membantu, membuat dirinya kembali dipercaya dan  terpilih untuk periode kedua menjadi anggota DPR Papua melalui Dapil yang sama dari Parpol P3.

Nason Utti juga digadang-gadang rakyat Paniai untuk menjadi bupati pada Pilkada serentak tahun 2018. “Ya kalau Tuhan percayakan, rakyat percayakan, saya harus siap menjalankan amanah itu,”ujar Nason Utti.

Tentu jika Nason Utti dipercaya menjadi Bupati Paniai, ini menjadi sebuah kisah nyata seorang juru parkir  menjadi pemimpin. Dibalik semua perjuangan, tekad keras, fokus dan selalu bertanggung jawab akan ada hasil sesuai yang diimpikan. (Ambarita)

banner
Bagikan :

News Feed