oleh

Asmat Butuh Museum Ditengah Derasnya Arus Pembangunan

Asmat adalah sebuah suku dan wilayah yang terletak di selatan Papua pulau paling timur Indonesia. Nama Asmat sudah terkenal di seantero dunia bahkan menjadi selebriti yang banyak menghiasi museum etnology karena seni dan budayanya yang bernilai tinggi.

Seiring dengan berjalannnya waktu, kini arus penbangunan cukup gencar dan masif dilaksanakan pemerintah sebagai program guna membuka keterisolasian dan mengejar ketertinggalan Papua dengan daerah lain Indonesia. Lantas bagaimana seni dan budaya Asmat menghadapi arus pembangunan tersebut?

Melihat Papua yang didalamnya ada Suku Asmat tentu tidak cukup dari satu aspek, tapi harus semua aspek dan menyeluruh, baik itu geografis, budaya dan politik.

Aspek geografis, sebagian besar wilayah Papua sulit dijangkau. Di wilayah Pegunungan medannya sangat terjal dan iklimnya cukup ekstrem. Di pesisir banyak sungai dan rawa rawa. Kondisi ini menjadikan wilayah itu terisolir dan sulit dijangka. Akibatnya tingkat kemahalan terjadi, sebab akses atau distribusi barang maupun bahan makanan aangat sulit dilakukan. Pemerintah kemudian membuka keterisolasian itu dengan membangun jalan Trans Papua yang kini masih terus berjalan.

Aspek budaya, sebagaian besar masyarakat Papua masih sangat kental dengan adat dan istiadatnya. Tentu dalam proses pembangunan, semua pihak harus menghormati budaya setempat sebagai suatu ke arifan lokal.

Aspek politik, Papua masih menjadi sorotan masyarakat dunia dengan berbagai alasan, baik itu kesan lambannya pembangunan di Papua dibidang pendidikan dan kesehatan, padahal ada UU Otsus yang dilahirkan untuk memayungi proses tersebut. Sorotan terhadap Papua tentu juga menjadi sorotan bagi Asmat yang menjadi salah satu suku di dalamnya. Bagaimana jadinya jika pembangunan tidak dilaksanakan secara masif di Asmat? Sementara Asmat cukup dikenal diseantero dunia karena seni dan budayanya yang bernilai tinggi.Bahkan Asmat bisa dikatakan adalah ikon Papua.

Pembangunan di Asmat harus terus dilaksanakan dengan tetap menghargai kearifan lokal yang didalamnya termasuk seni budaya.

Lalu bagaimana melestarikan seni budaya Asmat ditengah arus pembangunan yang masif?

Salah satunya dengan mengembangkan museum modern yang bercita rasa Asmat. “Kami akan kembangkan museum modern yang bersinergi dengan budaya Asmat dan menghasulkan sebuah kombinasi dari museum sebagai bagian dari budaya yang hidup, sehingga bangunan museum tidak menjadi bangunan mati tetapi museum yang hidup dan berkelanjutan,”ujar Yori Antar dari Yayasan Widia Cahaya Nusantara dalam Talk show dan dialog sekaligus pameran yang bertajuk “Asmat Menatap Dunia” beberapa hari lalu di Jakarta.

Menurutnya, Yayasan Widia Cahaya Nusantara akan bekerja sama dengan Yayasan Rumah Asuh guna mewujudkan adanya museum modern bercita rasa Asmat. “Dengan museum ini diharapkan, karya seni dan budaya masyarakat Asmat bisa dilestarikan dan tidak lagi diperjualbeikan sehingga hilang,”ucapnya.

Ketua Yayasan Widia Cahaya Nusantara, Brunoto pada kesempatan yang aama mengatakan, seni dan budaya Asmat bernilai tinggi karena lahir dari fenomena alam san spiritual, sehingga perlu dilestarikan. “Budaya Asmat masih kental dengan fenomena alam, termasuk dalam mengukir menjadi suatu spiritual karena masih dianggap ungkapn perasaan hati, yang menghasilkan nilai seni bernilai tinggi yang harus dipertahankan,”ujarnya.

Seni dan budaya Asmat perlu dilestarikan, agar tidak tergerus arus perubahan. ”Asmat kini menghadapi tantangan perdaban yakni dalam tekanan atau shock kultur menghadapi arus pembangunan infrastruktur membuka keterisolasian. Asmat kini menatap peradaban baru sehingga karya seni dan budayanya perlu di jaga melalui pembangunan museum,”terangnya.

Romo Eko Budi S dari pastur Paroki Asti Asmat mengatakan, peradaban modern tidak lagi terbendung masuk ke Asmat, sehingga karya seni dan budayanya harus terus dilestarikan. “Bagaimana budaya Asmat tetap dipertahankan tanpa menutup maauknya peradaban modern, salah satunya dengan membangun museum,”ungkap Romo.

Bupati Asmat Elisa Kambu menyatakan, proses pembangunan di Asmat harus terus berjalan, agar masyarakat semakin sejahtera. “Asmat butuh perhatian pemerintah pusat, terutama dalam membangun infrastruktur untuk membuka akses, sehingga segala sesuatunya terjangkau,”ujar Bupati Jumat 11 Mei melalui telepon selulernya.

Dengan akses yang terbuka, maka keterbatasn Asmat dalam segala hal bisa teratasi. “Semua masih terbatas di Asmat, infrastruktur yang belum memadai, fasilitas unum yang terbatas, rumah sakit yang belum layak,”ucapnya.

Untuk membangun Asmat, memang harus tetap menghargai kearifan lokal. “Salah satu kekayaan kami adalah seni dan budaya, yang terus dilestarikan melalui festival Asmat setiap tahun, tapi tanpa akaes yang mudah tentu akan sulit mengundang wisatawan datang. Jadi Asmat butuh pembangunan dengan tetap melestarikan seni san budayanya,”kata Bupati.

Dari pernyataan-pernyataan tersebut diatas, Kepedulian semua pihak dalam proses pembangunan Asmat cukup tinggi,, namun dngan tetap menjaga dan melestarikan seni dan budayanya. Dan pembangunan museum modern untuk menampung hasil karya seni dan budaya Asmat menjadi salah satu solusi untuk menghindari tergerusnya seni dan hudaya Asmat oleh arus pembangunan. Serta menghindari hasil karya seni Asmat diperjual belikan atau ditukar dengan bahan makanan dengan murah.

Asmat merupakan suatu suku yang berada di selatan Papua terdiri dari 23 distrik dan 222 kampung. Asmat terkenal dengan seni ukirnya. Mata pencaharian masyarakat utama Asmat adalah meramu
Masyarakat asmat khususnya wanita biasanya merupankan perempuan yang tangguh, mereka biasanya meramu, dan membuat sagu untuk makanan pokok mereka serta melakukan pekerjaan-pekerjaan yang lebih menatang, Hal ini sudah merupakan budaya dari masyarakat setempat, dan untuk kaum lelaki biasanya mereka memahat/membuat seni ukir. Seni ukir yang dihasilkan bukan hanya seni ukir biasa yang sudah memiliki desain terlebih dahulu, melainkan seni ukir yang diciptakan masyarakat yang lahir dari ungkapan perasaan hati. Jadi ukiran yg dihasilkan bukalah ukiran biasa namun ukiran yg dibuat dengan sentuhan roh roh nenek moyang mereka.
Seiring dengan berjalannya waktu bahan makanan yg mereka cari dengan cara meramu lambat laun semakin menipis stock nya, dan untuk tetap melangsungkan hidup mereka membeli makan mie instan yang dijual oleh pendatang, dengan cara barter dengan karya-karya seni ukir mereka dan noken hasil karya mereka.

Suku asmat merupakan suku yang memiliki rasa kebersamaan dan gotong royong yang kuat. Ini terlihat ketika para kaum lelaki suku asmat membuat rumah Jew atau rumah Bujang. Rumah ini merupakan rumah adat suku setempat yg dipergunakan untuk bermusyawarah, perecanaan perang, membuat karya seni seperti seni ukiran noken, dan di dalam rumah ini juga tersimpan alat untuk berburu seperti panah dan tombak. Yang unik dari rmh ini adalah kaum wanita dilarang masuk ke dalam rumah ini. Ini merupakan rumah untuk para kaum lelaki dimana mereka mecari jati diri mereka. (Bram)

banner
Bagikan :

News Feed