oleh

Diganggu Kelompok Bersenjata, Pembangunan Jalan Trans Papua Tersendat

Jayapura, Proses pelaksanaan pembangunan Jalan Nasional Trans Papua untuk sementara tersendat-sendat, bahkan pembangunan 35 jembatan yang menghubungkan jalan tersebut, untuk sementara tertunda, akibat adanya gangguan keamanan dari kelompok bersenjata di Papua. Hal itu diungkapkan Kepala Balai Besar Pembangunan Jalan dan Jembatan Wilayah XVIII Kementrian PU Provinsi Papua, Oesman Marbun.

“Kami butuh keamanan untuk proses pembangunan dan jalan dan jembatan, karena dengan kondisi saat ini terutama sebelum dan setelah Pilkada, situasi tak kondusif di beberapa ruas jalan yang sedang dalam proses pembangunan,’’ujar Oesman Marbun disela-sela kunjungan anggota Komisi V DPR RI meninjau Jembatan Holtekamp Jayapura, Selasa 31 Juli.

Lanjut Oesman Marbun, akibat situasi yang kurang kondusif, pembangunan jembatan yang menghubungkan Jalan Trans Papua untuk sementara ditunda. ‘’Pembangunan 35 jembatan yakni, 14 jembatan dari arah Wamena-Mamugu-Kenyam dan 21 jembatan dari Unuggu-Pahru untuk sementara ini dihentikan hingga situasi kondusif,’’ujar Oesman.

Dia berharap proses pembangunan jembatan maupun Jalan Trans Papua di ruas Wamena-Kenyam sudah bisa kembali dilaksanakan pada Agustus mendatang. “Kami sedang berkoordinasi dengan pihak Kodam Cenderawasih untuk membentuk tim pengamanan. Mudah-mudahan Agustus ini sudah bisa bekerja lagi,’’kata Oesman.

Potesi gangguan keamanan untuk proses pembangunan Jalan dan jembatana Trans Papua, sambung Oesman juga ada di ruas jalan yang menghubungkan Wamena-Mulia-Sinak-Ilaga. “Bukan hanya di ruas jalan Wamena-Kenyam, tapi juga diruas lain ada potensi gangguan keamanan yang menghambat proses pembangunan,tandasnya.

Meski demikian, Oesman tetap optimis, proses pembangunan Jalan dan Jembatan Trans Papua akan tuntas sesuai dengan target yang sudah ditentukan. “Pembangunan Jalan Trans Papua sepanjang 4325 KM kini sudah mencapai 91 persen, kami optimis semua ruas akan terkoneksi sesuai tenggat waktu yang diberikan,’’paparnya.

 

 

 

 

 

 

Menyikapi adanya kondisi gangguan keamanan dalam proses pemnbangunan Jalan dan Jembatan Trans Papua, Ketua Komisi V DPR RI bidang Infrastruktur Fary  Djemy Francis menyatakan, pihaknya akan akan berkoordinasi dengan Kementrian PU PR, guna mencari jalan keluar menghadapi kendala-kendala tersebut. “Agenda Komisi V DPR RI ke Papua untuk memonitoring secara langsung kendala-kendala teknis yang dihadapi dalam proses pembangunan Jalan Trans Papua, baik itu aspek keamanan maupun yang lainnya, dan jelas ini juga menjadi PR bagi Kementrian PU PR,’’tandas Fary.

Ia meminta proses pembangunan Jalan dan Jembatan Trans Papua harus tetap berjalan, agar keterisolasian dan tingkat kemahalan di Papua bisa teratasi. ‘’Konektivitas Jalan Trans Papua ini sangat prnting dalam membuka keterisolasisan Papua,’’singkatnya.

Pangdam XVII Cenderawasih Mayjen George Elnadus Supit saat dikonfirmasi telepon selulernya terkait permintaan keamanan dari pihak Balai Besar Pembangunan Jalan dan Jembatan Wilayah XVIII, belum bersedia memberikan keterangan.

Dalam proses pembanguna Ruas Jalan Wamena-Habema-Kenyam-Mamugu sepanjang 284,30 km  menghadapi beberapa tantangan diantaranya geografi lapangan yang sulit, iklim cuaca yang ekstrem, tantangan social maupun aspek hak ulayat masyarakat setempa, serta gangguan dari kelompok bersenjata. Seperti yang terjadi [pada 12 Desember 2017, sekelompok bersenjata menembaki operastor alat berat yang sedang melaksanakan pembangunan jalan. Akibatnya seorang operator alat berat tewas dan 1 anggota TNI terluka. (Bram)

Bagikan :

News Feed