oleh

Pesawat Dimonim Air yang Hilang Kontak Ditemukan

Jayapura, – Upaya pencarian pesawat perintis Dimonim Air jenis Pilatus PK-HVQ Type Pac 750 XL milik PT Martha Buana Abadi yang dikabarkan hilang kontak pada Sabtu 11 Agustus 2018, akhirnya membuahkan hasil pada Minggu 12 Agustus pagi. Dari hasil pantauan udara, pesawat ditemukan pada lokasi dengan koordinat 04 51.07 Lintang Selatan dan 140 35.94 Bujur Timur.

Hal ini disampaikan Staf Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) Perwakilan Papua Norbert Tunjanan di Jayapura, Minggu 12 Agustus pagi, dilansir dari Kompas.id.

Kata Norbert, tim pencarian menggunakan pesawat Dimonim Air jenis Karavan untuk menemukan titik lokasi pesawat tersebut pada pukul 06.15 WIT. “Mereka menemukan pesawat pada ketinggian 6.500 kaki. Dari laporan pesawat, kondisi badan pesawat hancur lebur,” kata Norbert.

Pesawat perintis yang terbang dari Tanah Merah Kabupaten Boven Digoel dengan tujuan Okshibil hilang kontak pada pukul 14.50 WIT, Sabtu kemarin. Pesawat dengan nomor registrasi PK-HVQ ini mengangkut sebanyak dua awak pesawat dan tujuh penumpang. Identitas para penumpang yakni, Pilot Leslie Severe asal Papua Nugini, Co Pilot Wayan Sugapa, Sudir Zakana, Martina Uropmabin, Hendrikus Kamiw, Lidia Kamiw, Jamaluddin, Naimus dan Jumaidi.

Seorang warga bernama Leo Kakyarmabin melaporkan kepada anggota TNI-AD di Pos Oksibil, bahwa dirinya pada Sabtu sekitar pukul 15.40 WIT, melihat sebuah pesawat melintas di atas Gunung Menuk, Kampung Okatem, Distrik Oksibil, Kabupaten Pegunungan Bintang. Tidak lama kemudian ia mendengar suara ledakan dan gemuruh dari atas Gunung Menuk.

Kepala Kantor SAR Jayapura Putu Arga Sujarwadi menuturkan, pihaknya akan menerjunkan sebanyak 80 petugas beserta dua helikopter dan satu pesawat berbadan kecil jenis karavan untuk membantu proses evakuasi para penumpang dari Gunung Menuk.

Putu memperkirakan, kemungkinan faktor cuaca buruk yang menyebabkan pesawat Dimonin Air diduga mengalami insiden di Menuk. Dalam beberapa hari terakhir kondisi cuaca di Oksibil berkabut.

“Perjalanan darat ke lokasi yang diduga jatuhnya pesawat sekitar sembilan jam. Karena itu, kami akan memprioritaskan evakuasi menggunakan jalur udara, ” terang Putu.

Pegunungan Bintang (Pegubin) termasuk salah satu daerah yang rawan kecelakaan pesawat di kawasan Pegunungan Tengah Papua. Sebelumnya, Pesawat Trigana Air yang mengangkut 54 orang jatuh di Distrik Okbape pada 16 Agustus 2015. Seluruh penumpang tewas dalam insiden ini.

Kemudian pesawat PK-FSO tipe C208 Caravan yang dipiloti Kompol Rio Pasaribu dari Tanah Merah, Kabupaten Boven Digoel tujuan Oksibil, dengan membawa barang kebutuhan pokok jatuh di Bukit Anem, Pegunungan Bintang pada 12 April 2017. Rio ditemukan tewas oleh tim SAR. (hara)

Bagikan :

News Feed