oleh

Pasca Gugurnya 2 Prajurit TNI, Tokoh Agama Papua Minta Jangan Ada Penyisiran

Jayapura, Dua prajurit TNI tewas saat meaksanakan tugas di Distrik Tingginambut Kabupaten Puncak Jaya Papua, Minggu 19 Agustus lalu. Keduanya diduga ditembak keompok bersenjata yang bermarkas di sekitar lokasi kejadian. Menyikapi peristiwa itu, sejumlah Tokoh Agama yang tergabung dalam Forum Kerukunann Umat Beragama Provinsi Papua meminta, pihak TNI yang dalam hal itu menjadi korban, tidak membalas apalagi melalukan penyisiran. Sebaiknya semua pihak mengedepankan dialog, dalam menghentikan segala aksi kekeraaan yang terjadi.

Hal itu diutarakan Ketua Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Provinsi Papua Pendeta Livius Biniluk. “Pasca gugurnya 2 prajurit TNI yang ditembak Kelompok Bersenjata, kami harap jangan ada penyisiran, nanti yang menjadi korban masyarakat tak berdosa, yang rata-rata tidak mengerti berbhaaa Indonesia,”ujar Liviuk Biniluk didamping perwakilan Agama, kepada wartawan Selasa 21 Agustus di Jayapura.

Lanjutnya, sebaiknya dalam menghentikan berbagai aksi kekerasan yang belakangan ini terjadi, mengedepankan dialog. “Intelijen pasti sudah menginventarisir pelakunya, lebih baik ambil langkah-langkah profesional yakni tangkap pelakunya tanpa melakukan penyisiran,”harap Livius.

Kata Livius, tokoh agama sangat menyayangkan aksi kekerasan yang merenggut 2 personil TNI.

“Siapapun dia, mau TNI,  OPM kah, masyarakat kah, nyawa sangat mahal harganya. Jadi tidak boleh saling bunuh mari kedepankan dialog dalam menyelesaikan berbagai persoalan,”tandasnya.

Ia meminta Kelompok Bersenjata untuk menghentikan segala aksi kekerasan. “Membunuh dilarang agama, jadi stop bertindak seperti itu,”imbuhnya.

Meski demikian, sambung Livius, 3 hari pasca peristiwa gugurnya 2 prajurit TNI, belum ada tindakan-tindakan yang memgaraha pada adanya penyisiran. “Belum ada laporan terkait adanya penyisiran, tapi pemerintah harus terus mendorong adanya dialog,”tegasnya.

Langkah yang paling ideal dalam menyelesaikan persoalan di Papua termasuk menghentikan aksi keompok bersenjata, menggear dialog.

“ Selesaikan dengan pihak pihak yang bertikai seperti Kelompok Bersenjata maupun mereka yang ada di luar negeri seperti ULMWP, dengan jalur dialog, jangan bertahan lebih karena hanya menimbulkan korban berjatuhan lagi,”tukasnya.

Pendeta Maury juga mengatakan hal senada, bahwa dalam menyelesaikan pertikaian harus mengedepankan dialog. “Kita semua harus kedepankan 5 D, doa, duduk, dialog, diskusi untuk damai,”ucap Maury ditempat yang sama.

Peristiwa gugurnya 2 prajurit TNI merupakan tindakan yang memalukan dilakukan keompok bersenjata karena todak berperikemanusiaan yang jelas bertentangan dengan agama. “Sebaiknya pemerintah membuka ruang dialog, apalah artinya tunjukan kekuatan. TNI Polri sebenarnya  sudah jalankan tugasnya dengan baik, tapi malah diserang,”tegasnya.

Ia menghimbau, keompok bersenjata yang hingga kini masih terus beraksi, segera menghentikan segala aksinya. Kalau teman-teman yang kini di Hutan ada keluh kesah samapi akan melalui para tokoh agama, jangan malah main hakim sendiri. Yang dibunuh itu ada keluarga loh, kasihan mereka mari duduk bersama dan dialog,”harapnya.

Hari ini dua prajurit TN  dari kesatuan Kopassus yang gugur di Tingginambut dimakamkan di Jakarta.

Bagikan :

News Feed