oleh

Tampar Tenaga Pendamping Distrik, Pj Bupati Puncak Harus Minta Maaf

Jayapura – Kawattimur,  Tenaga pendamping Distrik Ilaga, Stepen Subay meminta Penjabat Bupati Puncak, Nicolaus Wenda segera meminta maaf atas aksi penamparan terhadap dirinya yang sudah viral di media sosial belum lama ini.

Dalam video nampak Penjabat Bupati Puncak sebanyak tiga kali melakukan penamparan karena kesal terhadap kinerja tenaga pendamping yang kurang maksimal. “Selama ini kamu kerja tidak benar, jangan membodohi masyarakat. Kamu orang Papua tapi membodohi orang,” kata Penjabat Bupati dalam video tersebut.

Bahkan tenaga pendamping dinilai berbicara tak sesuai fakta lapangan dan tak pernah berkoordinasi dengan pemerintah kabupaten puncak.

“Coba datang ketemu bupati, saya kemarin didatangi kepala kampung, saya tidak bisa bicara. Saya panggil kamu (pendamping) tidak pernah datang. Kami mau ada koordinasi kerja antara pemerintah dan pendamping sehingga semua proses bisa jalan baik,” ujar Wenda.

“Kalau kamu jelaskan cara kerja kamu disini saya pasti tahu tapi tidak pernah ada disini. Uang mau cair baru muncul disini. Ini masyarakat tidak kenal kalian. Kamu tidak pernah ada disini, jangan kamu main-main,” keluh Nicolaus sebagaimana isi percakapan dalam video.

Stepen Subay selaku korban penamparan dalam wawancara dengan pers via telepon selulernya membenarkan peristiwa tersebut. Insiden penamparan itu terjadi pada 13 Agustus 2018 lalu.

“Persoalannya video ini kan bukan sudah tersebar ke seluruh Indonesia. Anak, istri, bahkan keluarga besar kami sudah tau dan mereka pasti tidak akan terima,” kata Stepen Subay kepada wartawan via tlp seulernya, Senin (27/8/2018).

Dirinya kecewa dengan sikap Bupati Nicolaus yang dalam sebuah surat kabar tidak mengklarifikasi atau meminta maaf. “Saya minta kepada Penjabat Bupati agar segera meminta maaf ke publik. Sebab bagi kita memang sudah tidak permasalahkan tapi bagaimana dengan keluarga kami? Paling tidak harus ada statement terbuka untuk meminta maaf ke publik,” ujarnya.

Pihaknya sangat menyayangkan tindakan penjabat bupati karena berpotensi merusak citranya sebagai pejabat publik.

“Masalahnya sepele yaitu terprovokasi dengan bahasa yang menurut bupati kami pendamping yang sebutkan. Kata-kata itu, “bupati itu siapa jadi kita mau dengar”. Padahal hal ini tidak kami katakana,” katanya.

“Kita juga bertugas sudah lama di Puncak dan selalu di lapangan. Yang pasti kita sudah memafkan namun harus ada permintaan maaf ke publik secepatnya,” jelasnya.

Kepala Dinas Pemberdayaan Masyarakat Kampung Kabupaten Puncak Yonathan Habagal yang juga dikonfirmasi pers via telepon selulernya, membenarkan peristiwa itu.

“Intinya, setelah penamparan besoknya saya mengajak Stepen Subay untuk datang mengikuti rapat bersama Penjabat Bupati. Kita kemudian menjelaskan kepada bupati sehingga sudah aman dan tidak ada masalah lagi,” kata Yonathan Habagal.

Menurut Habagal, masalah itu sudah diselesaikan secara baik-baik antara Penjabat Bupati Nicolaus Wenda dan Stepen Subay selaku korban. “Yang pasti sudah dijelaskan bahkan pada saat itu Penjabat Bupati sudah meminta maaf pada pendamping,” ujarnya. (bm)

Bagikan :

News Feed