oleh

Papua Krisis Atlet, Padahal Bakal Tuan Rumah PON

banner

JAYAPURA Kawattimur,- Papua yang dijuluki sebagai gudang atlet saat ini dilanda krisis atlet bahkan pelatih handal pada berbagai cabang olahraga.

Oleh karena itu, pengurus cabang olahraga ditingkat provinsi sudah harus melakukan pengembangan program terutama pembinaan atlet yang simultan atau berkelanjutan dari tingkat kabupaten dan kota.

“Kita saat ini krisis atlet, cabang olahraga sudah harus lalukan koordinasi dengan kabupaten/kota untuk pembinaan atlet yang terukur, jangan pembinaan hanya di ibukota provinsi,” ujar Sekretaris Umum (Sekum) KONI Papua Kenius Kogoya kepada pers disela-sela Musyawarah Provinsi (Musprov) Persatuan Baseball dan softball Seluruh Indonesia (Perbasasi) Papua di Hotel Aston Jayapura, Rabu, 3 Oktober 2018.

Menurut Kenius,  pembinaan atlet pun jangan hanya untuk menghadapi kegiatan tertentu saja, tetapi dilakukan dari awal.

“atlet itu ada di daerah, sehingga cabang olahraga dan koni kabupaten/kota saling koordinasi untuk melakukan pembinaan,” katanya.

Ia menyatakan, cabang olahraga juga harus membuat kegiatan yang berkelanjutan, sehingga bisa melahirkan atlet yang berbakat.

“kita di Papua juga cabang olahraga minim lakukan kejuaraan daerah, sehingga kita sulit mendapat atlet berbakat,” ujarnya.

Oleh karena itu, Kenius mendorong cabang olahraga yang sudah melakukan musyawarah agar membuat program kerja yang baik. Karena untuk mencapai satu prestasi itu harus ada pembinaan melalui kegiatan-kegiatan sehingga bisa dapat bibit atlet terbaik, katanya.

Sebelumnya, Ketua KONI yang juga Gubernur Papua Lukas Enembe, mengatakan Papua dilanda krisis atlet. “Kita krisis atlet, pada pelaksanaan PON Kalimantan Timur 2008 dan PON Riau 2012 prestasi Papua pada ivent olahraga nasional empat tahunan tersebut tidak membanggakan. Terakhir pada PON XIX Jawa Barat, Papua meraih prestasi dan berada pada urutan ketujuh perolehan 19 medali emas,” terangnya.

Gubernur menyesalkan prestasi atlet Papua yang terus mengalami penurunan jika dibandingkan era 70-an, hal ini disebabkan atlet dan pelatih Papua mengalami banyak ketertinggalan jika dibanding prestasi atlet diluar Papua.

Sebab kata Lukas Enembe, prestasi yang dicapai pada PON Jawa Barat tidak sebanding dengan anggaran yang dikeluarkan. Dimana alokasi dana untuk menghadapi PON Jawa Barat sangat besar, namun tidak sesuai dengan harapan.

“Prestasi tidak dibarengi dengan biaya yang kita hibahkan ke KONI. Biaya cukup besar tetapi prestasi tidak sesuai harapan, oleh karena itu untuk menghadapi PON XX harus kerja keras diimbangi dengan biaya tetapi jika biaya besar yang kita harapkan walaupun kita urutan tujuh kita bangga tetapi PON XX harus lebih baik,” kata Lukas Enembe. (get)

banner
Bagikan :

News Feed