oleh

Guru Korban Teror Kelompok Bersenjata di Mapenduma Trauma

Jayapura, Kawattimur – Guru SD YPGRI 1 Mapenduma inisial NM (42) yang menjadi korban kekerasan seksual oleh lima anggota Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB) di Distrik Keneyam, Kabupaten Nduga, mengalami trauma berat. Korban saat ini masih dalam perawatan intensif di RS. Bhayangkara Jayapura. Hal terebut diungkapkan Juru Bicara Polda Papua Kombes Pol Ahmad Musthofa Kamal, Senin 22 Oktober 2018.

“Kondisi korban saat ini sangat trauma, mengingat tindakan asusila itu dilakukan oleh beberapa orang. NM sendiri masih dalam perawatan dan belum bisa memberikan keterangannya,” ungkap Kamal di Media Center Polda Papua.

Ia menerangkan, 15 orang guru serta tenaga medis yang menjadi korban penyekapan dan pengancaman oleh KKB dibawah pimpinan Egianus Kogoya ini, telah berada di Wamena, Kabupaten Jayawijaya pada Kamis (18/10) lalu. Para guru itu selamat atas jaminan dari Kepala Puskesmas Distrik Mapenduga, Naftali Wandikbo. Mereka menginap di Gedung Puskesmas, hingga diterbangkan ke Wamena pada Kamis (18/10) lalu dengan menggunakan pesawat carteran.

“Kelima belas guru itu menjadi korban penyekapan, intimidasi dan ancaman kelompok kriminal bersenjata dibawah pimpinan Egianus Kogoya di Mapenduma. NM mendapat perlakuan asusila dengan 5 orang yang dilakukan secara bergiliran. Saat ini korban msih trauma dan dirawat di RS. Bhayangkara. Sementara satu lagi mendapatkan kekerasan fisik dan sudah pulang menjalani perawatan medis dari RSUD Jayawijaya,” terang Kamal kepada sejumlah wartawan.

Dikatakan, pihaknya sangat menyangkan hal tersebut terjadi, mengingat NM sendiri adalah guru yang sempat mendidik Egianus Kogoya. Selama 15 tahun korban mengabdi di Mapenduma.

Diketahui sebelumnya, 15 guru itu dilarang untuk tidak melakukan aktifitas mengajar dan tidak diperbolehkan keluar dari Distrik Mapenduma sejak tanggal 3 September sampai 17 Oktober lalu, lantaran KKB mencurigai mereka sebagai mata-mata dari aparat keamanan yang menyamar sebagai guru, untuk menggali informasi dari kelompok kriminal tersebut.

Sementara itu Kapolres Jayawijaya, AKBP Yan Pieter Reba mengakui adanya tindakan intimidasi terhadap tenaga pengajar yang bertugas di Mapenduma Kabupaten Nduga.
Selain melakukan tindakan intimidasi, Kapolres Reba menyebutkan bahwa da tindakan pelecehan seksual yang dilakukan kepada salah satu petugas disana oleh TPN-OPM.
Dijelaskan kapolres, tindakan intimidasi tersebut dilakukan terhadap tenaga guru dan tenaga kesehatan, sehingga hingga saat ini tenaga guru dan kesehatan yang bertugas di daerah itu telah diterbangkan ke Kabupaten Jayawijaya dan berjumlah 9 orang.
“Tenaga kerja ini saya ditahan di wamena dulu karena mereka masih trauma dan untuk disana karena itu wilayah NKRI maka kita akan ambil alih kembali sehingga aktifitas berjalan lancar,” kata Reba.
Selain itu, untuk aktifitas persekolahan dan aktifitas pelayanan kesehatan di daerah itu, dirinya memastikan akan mengamankan aktifitas tersebut sehingga dapat berjalan sebagaimana hari kerja lainnya.
Diriinya menegaskan, Kabupaten Nduga adalah salah satu wilayah dari NKRI, sehingga tidak diperkenan jika diklaim atau diambil alih oleh kelompok-kelompok tertentu.(NP)

Bagikan :

News Feed