oleh

Prihatin Keberadaan Sekolah Pengungsi KP3A Akan Salurkan Bantuan

Wamena Kawat Timur, – Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak menyampaikan keprihatinannya terhadap dampak yang terjadi di Wilayah Nduga sehingga berdampak terhadap jalannya proses pendidikan.

Hal itu disampaikan Humas Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Ice Margaret Robin saat berkunjung langsung ke Sekolah Pengungsian yang ada di Gereja Jemaat Weneroma Distrik Napua Kabupaten Jayawijaya, Senin (18/3/2018).

Dirinya mewakili kementerian KP3A menyampaikan keprhatinan atas kejadian tersebut dan dengan melihat kondisi dilapangan, Kementerian KP3A akan berusaha untuk tetap menyalurkan kepada para pengungsi yang ada saat ini, terutama bagi kebutuhan anak-anak sekolah.

Anak-Anak Sekolah Asal Kabupaten Nduga Saat Berada di Lokasi Pengungsian Halaman Gereje Jemaat Weneroma

“Atas nama kementerian perempuan dan anak kami sangat memperhatinkan khususnya konflik kemanusian yang terjadi di Kabupaten Nduga Provinsi Papua Republik Papua.

Diakui, kedatangannya ke Jayawijaya guna melihat langsung sejauh mana anak anak pengunsi ini mendapatkan hak untuk bidang pendidikan.

Dirinya juga menyayangkan kejadian yang terjadi karena hingga bulan maret berjalan, belum ada tindak lanjut maupun langkah kongkrit yang dilakukan oleh pemerintah, sehingga semuanya diambil alih oleh Gereja dan Relawan.

“Sebenarnya pemerintah tidak boleh setengah hati karna kasus ini adalah darurat kemanusian yang memang harus ditindak lanjuti secara lintas sector ,karena kalau berbicara tentang perempuan dan anak ini adalah croscating isu yang tidak bisa dikerjakan hanya kementrian perempuan dan anak, namun harus dikerjakan oleh kementerian kesehatan, pendidikan dan kementerian sosial termasuk kementerian pekerjaan umum kalau kita berbicara untuk infrastrukturnya,” ungkap Ice.

Dijelaskan, terkait akan dilakukan trauma hiling, menurutnya tidak semudah membalik telapak tangan, trauma hiling itu dilakukan dengan pemeriksaan secara bertahap yang dilakukan oleh tenaga profesiaonal dalam hal ini psikolog yang memang sangat membidangi urusan kejiwaan untuk menentukan apahkah benar anak ini harus mendapatkan penanganan pesikologis akibat kekerasan atau pesikits yang dialami oleh anak anak yang merupakan konflik kemanusiaan yang terjadi di Nduga.

“Jadi kalau trama hiling harus beberapa tahap yang harus dipenuhu setelah dilakukan analisis klisik oleh pesikolog maka akan disebutkan berat, ringan atau bagaimana penangananya,” kata Ice.

Menurutnya, dengan melihat langsung kejadian yang terjadi dilapangan, pihaknya akan melakukan rapat koordinasi denngan pemerintah kabupaten Nduga dan Kabupaten Jayawijaya untuk memberikan jalan keluar yang terbaik tanpa memberikan masalah baru untuk pemenuhan anak dalam pendidikan.

Terkait keterlambatan penanganan yang dilakukan oleh pemerintah Kabupaten Nduga, Ice menjelaskan, kami tidak bisah menilai karna belum bertemu dengan pemerintah setempat.

“Untuk mengurai benang kusut dipapua inikan tidak semudah membalik telapak tangan tapi kalu mengurus dengan hati pasti bisah mengurus konflik ini dengan baik,” ungkap Ice.(NP)

banner
Bagikan :

News Feed