oleh

Kadishut Papua Sebut Curah Hujan Tinggi Jadi Faktor Utama Banjir di Wilayah Jayapura

JAYAPURA, Kawattimur – Curah Hujan Ektrim dan patahan longsor yang terjadi di Kawasan Penyangga Gunung Cyclopp menjadi penyebab utama banjir bandang yang menimpa, Sentani Kabupaten Jayapura. Kadis Kehutanan Provinsi Papua, Jan Jap Omseray menyebut penyebab utama itu juga di dukung dengan adanya perambahan hutan di kawasan penyangga sehingga daya tampung serapan air di gunung tidak mampu, dan akhirnya meluap.

” itulah yang terjadi, kejadian ini lebih di sebabkan karena fenomena alam, keadaan cuaca dan curah hujan yang super ektrim, kalau curah hujan tinggi 100 mm perjam, tapi yang terjadi disini curah hujan bisa mencapai dua kali lipat bahkan lebih,” jelasnya kepada media di sela penyerahan bantuan kemanusiaan di Kampung Yonsu Desoyo, Distrik Refanirara, Kabupaten Jayapura, Kamis (21/3/2019) siang.

Kadishut menyebut bencana yang terjadi akhir-akhir ini, katanya memang akibat dari perubahan cuaca, dan ini bukan hanya di Jayapura tapi di secara nasional bahkan seluruh dunia. Secara umum, ia menilai gempa yang terjadi di Kabupaten Jayapura ini lantaran adanya pergeseran lempengan di Cycloop Timur tepatnya di atas Doyo. Ditambah dengan curah hujan tinggi ini juga menjadi salah satu sebab, karna air tidak bisa tertampung dan meluap.

“Hujan ini terjadi bukan hanya di Sentani atau Jayapura saja, jujur saja bencana ini bukan hanya di Sentani, jadi tidak usah kita mencari kambinh hitam di sini,” katanya.

Ia menjelaskan bahwasanya Cycloop secara keseluruhan masih dalam kategori baik, namun kawasan penyangga terjadi banyak perambahan hutan oleh masyarakat untuk perkebunan dan penjualan kayu hasil rambah untuk arang. Menurutnya, masyarakat perlu memahami jelas, bahwa ada perbedaan antara perambahan dan pembalakan liar.

Perambahan hutan merupakan penebangan pohon yang sifatnya di komersilkan,berbeda dengan perambahan hutan, dimana masyarakat menebang dan menggundulkan titik-titik lokasi di hutan untuk di jadikan areal perkebunan.

“Jadi pembalakan ini bagian dari perambahan itu yang terjadi di Cycloop, perambahan ini semua bersih, saat orang tebang pohon untuk di jadikan kebun-kebun itu bisa kita lihat di kawasan penyangga Cycloop,” jelasnya.

Dalam hal pengawasan Hutan di Cycloop, Kadishut menjelaskan pengawasan itu dilakukan langsung oleh Kesatuan Pengelola Hutan Konservasi (KPHK), lembaga ini berada langsung di bawah kementrian kehutanan. ” jadi untuk kawasan cagar alam pemerintah pusat yang langsung tangan karena itu daerah konservasi, dan itu tidak di laksanakan di daerah,” katanya.

Daerah hanya mengelola kawasan penyangga, dan saya katakan perambahan banyak terjadi di kawasan penyangga atau di daerah pinggiran Cycloop. Dari pemerintah daerah sendiri, terus melakukan pengawasan dan ada lembaga Masyarakat Mitra Polhut (MMP) yang bertugas untuk mengawasi, namun kami akui jumlahnya terbatas, sebab MMP ini rekruitmen dari anak-anak ondoafi dan pemilik tanah adat yang berada di kawasan penyangga, dan jumlah personilnya terbatas sehingga tidak mengcover seluruh wilayah.

Soal upaya pembenahan tetap di lakukan, bahkan telah ada Perda dari Pemda Jayapura untuk kawasan penyangga Cycloop dan sementara ini untuk pengawasan juga di lakukan beberapa lembaga dan LSM. ” kita juga sedang mendorong Pemkot Jayapura untuk menerbitkan regulasi untuk perluasan kawasan penyangga Cycloop,” katanya. (TA)

banner
Bagikan :

News Feed