oleh

Jembatan Penghubung di Asmat Hampir Rampung, Begini Respon Masyarakat

JAYAPURA (KT) – Meski belum rampung 100 persen, Jembatan penghubung dua desa di Distrik Agats, kabupaten Asmat sudah mulai di gunakan oleh masyarakat setempat. Hal itu terlihat dari aktifitas mobilisasi masyarakat dari Kampung Keye menuju Ibu Kota Asmat, Agats yang memilih melewati jembatan dibanding jalan kaki ataupun naik perahu.

“Kita sudah tidak menyebrang kali dengan kena lumpur kalo mau ke kota agats kalo kali air turun harus kena lumpur baru naik perahu ” kata Iganasius , warga masyarajat Kampung Keye.

Keberadaan jembatan sepanjang 72 Meter yang dibangun sejak 2018 ini, kata Iganasius mempermudah masyarakat yang kesehariannya lebih banyak beraktifitas di Ibu Kota Kabupaten Asmat, Agats.

“ Kalau dulu itu sa antar anak sekolah dari Kampung Suru harus jalan diatas lumpur saar air kering atau naik perahu, sekarang karna su ada jembatan jadi lebih praktis, tra usah kotor-kotor lagi dan lebih dekat waktu juga lebih cepat,” jelasnya.

Hal yang sama juga di akui oleh ibu welmin sebagai ibu rumah tangga di kampung kiye pun merasa senang dengan adanya jembatan gantung dan jalan beton yang berada di atas rawa dan lumpur ini karna untuk menuju kota agats dirinya tinggal berjalan kaki dan naik motor listrik ke kota dan tidak lagi naik ojek perahu untuk ke kampung suru distrik agats.

Selain sering di gunakan untuk jembatan penyeberangan oleh warga masyarakat di kampung kaye dan beberapa pns pemda, jembatan gantung ini juga sering di gunakan untuk sebagai tempat santai dan berfoto foto oleh warga agats bahkan dari luar agats lainnya, mengingat jembatan gantung ini juga baru pertama ada di kabupaten asmat dan letaknya pun sangat strategis hingga bisa menjadikan ikon pariwisata untuk Kabupaten Asmat.

Kepala Balai Besar Pelaksanaan Jalan Nasional XVlll Jayapura, Osman Marbun, Kamis (4/7/2019) mengatakan proses pembangunan jembatan sudah masuk tahap finishing. Dimana saat ini pihak kontraktor sedang menyelesaikan pekerjaan tinggal pekerjaan jalan beton sepanjang 2,9 meter.

Meski belum secara resmi rampung 100 persen, kata Osman, masyarakat sudah dapat menggunakan fasilitas tersebut, sebab jembatan itu memperpendek waktu serta membuka isolasi daerah berlumpur untuk mobilisasi masyarakat di kedua kampung terhubung.

” Pihak Kementerian PUPR, sejak tahun 2018 telah melakukan pembangunan fisik untuk masyarakat, hal ini agar rentang waktu dan jangkauan antar kampung, distrik untuk dapat dilalui dengan menyingkat jarak untuk meningkatkan ekonomi masyarakat setempat” katanya. (TA)

Bagikan :

News Feed