oleh

Meski Rumah dan Usahanya Habis Dibakar, Abdul Tetap Bakal Balik ke Wamena

Oleh : Dessy Fina Wambrauw

Demonstrasi anarkis yang dipicu kabar hoax di Wamena, berujung dengan terjadinya kerusuhan. Puluhan nyawa melayang dan ratusan bangunan baik fasilitas umum maupun rumah hangus dibakar sekelompok orang.

Kondisi itu membuat belasan ribu warga trauma terutama pendatang, dan kemudian eksodus meninggalkan kota tua di Pegunungan Tengah Papua itu.

Meski demikian, tak sedikit yang memilih kembali ke Wamena, untuk tinggal dan berusaha lagi.

Abdul Sihabudin seorang Guru ngaji berusia 40 tahun, yang juga berprofesi sampingan sebagai tukang ojek di Wamena, bersedia kembali ke Wamena dan memulai usaha lagi.

Dengan nada suara yang berbata-bata, ia mengungkapkan bahwa kerusuhan Wamena, seperti mimpi yang menakutkan, karena baru pertama kali terjadi, meski sudah berdomisili di Wamena selama 10 tahun dan memiliki hubungan yang baik dengan masyarakat lokal setempat.

Awalnya, Abdul hanya tinggal seorang diri di Wamena, namun karena ia memiliki hubungan yang baik itu, diboyonglah istri serta kedua anaknya yang masih kecil ke Wamena pada tahun 2017.

Abdul memiliki 6 orang anak dan yang diboyong ke Wamena adalah anak kelima dan keenam yang usianya masih balita. Keempat anaknya itu berdomisili di Kota Asal yakni Kota Probolinggo Provinsi Jawa Timur.

Sebelum peristiwa demonstrasi itu, kehidupan Abdul kian menanjak kesuksesan. Pasalnya, ia memiliki 10 rumah kontrakan, 10 motor yang disewakan untuk ojek dan memiliki Toko Bahan Makanan (Bama). Namun, semuanya telah hilang dan tinggal puing-puing serta abu-abu yang menjadi kenangan manis di Kabupaten Wamena.

Walaupun demikian Abdul tidak lantas putus asa, ia akan kembali dan membenahi kehidupannya lagi di Wamena. Dengan bermodal sertifikat dan beberapa dokumen lainnya yang diselamatkan, ia akan mencoba memulai membuka lagi usahanya, meski Istri tercinta dan anak-anaknya tidak ingin kembali dan melanjutkan kehidupan di Wamena karena trauma berat.

“Kalau ditanya cinta Papua, saya akan menjawab bahwa saya sangat cinta Papua. Saat kerusuhan terjadi saya sempat menyelmatkan sertifikat dan beberapa dokumen harta benda saya di Wamena. Jadi, ketika keadaan sudah aman, kemungkinan besar kalau saya akan kembali lagi ke Wamena. Tapi, istri dan anak saya seperti tidak mau lagi di Papua, karena trauma. Sebab belum 2 tahun mereka tinggal ke Papua, Papua sudah kacau begini,”ucapnya saat menjelaskan peristiwa kerusuhan Wamena.

Saat rusuh terjadi, Abdul sedang menjalankan profesinya sebagai tukang ojek dan saat itu juga diinformasikan agar orang tua murid menjemput anaknya di sekolah masing-masing. Setibanya di rumah, Abdul bersama sang anak telah dikejutkan dengan adanya aksi anarkis pembakaran Bandar Udara Lembah Baliem Wamena.

Rumah Abdul berhadapan dengan Bandara, sehingga aksi anarkis itu membuat sang istri dan kedua anaknya sangat panik dan berlari sambil menangis. Ia yang menggendong anak-anaknya kemudian bersembunyi di rumah Honai milik masyarakat suku Wamena, yang memiliki hati baik untuk mengamankan para pendatang atau masyarakat non-papua.

Setelah itu, para TNI/Polri datang dan memberitahukan agar para non-papua keluarkan dan akan dievakuasi atau diberi pengamanan khusus.

“Alhamdulilah kami selamat dari peristiwa itu, karena kebaikan Mama Papua yang mengamankan kami dirumah Honai miliknya.

Hal yang paling menyedihkan bagi Abdul, adalah rumah dan semua usaha dagangnya dibakar oleh orang yang diberi makanan, tempat tinggal sehari-hari.

“Pokoknya saya sangat baik sama orang itu, tapi kok bisa rumah saya dibakar,”katanya sembari mengusap air mata saat ditemui duduk
di halaman penginapan Paskhas Biak.

Saat ini Istri dan anak Abdul sudah dipulangkan ke tempat asalnya menggunakan Pesawat komersial, setelah menunggu di Sentani Jayapura, belum lama ini. (*)

Bagikan :

News Feed