oleh

Warga Sekitar RSUD Abepura Mengeluh Limbah Sampah Rumah Sakit

JAYAPURA,-Masyarakat yang ada di sekitar Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD)  Abepura, mengeluh dengan tumpukan sampah infeksius dari limbah rumah sakit yang bertumpuk tepat di pinggir Instalasi Gawat Darurat (IGD).

Tumpukan sampah dan limbah rumah sakit yang sudah tinggal dengan berbulan-bulan dan belum di angkut. Masyarkat juga mengeluh dengan  Alat Insenerator, pembakaran sampah limbah infeksius, setiap di bakar kadang menimbulkan bau tak sedap dan menyengat sehingga mengganggu lingkungan sekitar.

Intan salah seorang warga yang kesehariannya membuka kios yang tinggal didaerah situ menuturkan, pengelola yang mengurus hal itu sudah pernah menyampaikan kepada direktur rumah sakit, namun belum ada tindakan yang diambil oleh direktur rumah sakit.

“Semua warga disini punya keluhan, Pak Imbiri serta kita warga yang ada disini rencana mau bikin surat, ke Dinas Lingkungan Hidup agar biar nanti mereka yang tegur. Karena memang kita sudah lapor ke pihak RSUD. Bukannya apa tetapi kalau dibakar itu bau bangkai, perih dimata dan hidung,  sampai orang di lingkungan sekitar sini beli masker di saya,” tutur, Intan salah seorang warga Rabu 15 Agustus 2018.

Nampak sampah limbah rumah sakit yang menumpuk dan alat Insenerator pembakaran sampah limbah rumah sakit.

Sementara itu ditambahkan  Yulianus Imbiri yang juga merupakan Dosen di Universitas Sains dan Teknologi Jayapura (USTJ) mengatakan kita melihat bahwa rumah sakit adalah tempat dimana orang berobat, untuk bisa mendapatkan kesehatan yang baik supaya dia bisa hidup dengan layak. Tapi justru yang kita lihat tempat pembakaran di taruh di tengah-tengah lingkungan.

Orang lingkungan sering bicara karena saya juga dosen, jadi saya tau bagaimana lingkungan itu pencemaran bisa terjadi melalui asap kendaraan juga termasuk asap ini dan asap yang biasa dikeluarkan lebih berbahaya antar mobil dan industry termasuk pembakaran  sampah limbah rumah sakit.

“Ini saya rasa tidak tepat ditaru ditengah-tengah lingkungan dan ditengah rumah sakit, karena pencemarannya bisa juga untuk warga, bisa juga untuk orang yang bekerja di rumah sakit itu sendiri, justru orang yang didalam rumah sakit juga bisa kena dampak dari pada itu,” ujarnya.

Nah bagaimana tempat ini bukan, kita larang tetapi penempatannya yang tidak tepat, bole lah tapi tidak tepat kalau di taru ditengah-tengah rumah sakit dan ditengah-tengah lingkungan. Alangkah baiknya rumah sakit mempikirkan tempat yang lebih praktis yang aman dari lingkungan atau rumah sakit itu sendiri  supaya kita sama-sama menikmati kesehatan udara ini dengan baik.

“Memang berapa kali ada pembakaran dan sudah tegur, kami tidak lihat kita dilingkungan sini, sedikit bau-bau obat itu sangat tajam untuk kesehatan itu pasti tidak nyaman. Apalagi rumah sakit adalah tempat untuk pengobatan orang sakit justru dia menimbulkan sakit untuk orang lain lagi, saya pergi lihat bangunan disebelah nya itu, limbah jentik nyamuk paling banyak,” ungkapnya.

Dirinya mengaku bahwa bukan melarang tetapi harus dibenahi  apa yang tidak pas, penempatannya itu diperbaiki supaya solusi yang terbaik kasih orang-orang teknik yang tangani. Saya pernah survey untuk limbah-limbah rumah sakit di dok II dan mempunya besik disitu juga. Jadi saya tau bagaimana itu system pembuangan itu bertahap, tidak langsung  dibuang  ke limbah umum ini. Ada step by step yang dibuat oleh Belanda waktu itu kita survey, jadi air jatuhan itu dia berkurang dan itu ada kedalam endapannya itu disitu.

“Jadi saya lihat bahwa rumah sakit sebenarnya sudah bagus  dari segi lingkungan bersih bagus. Cuma ada kekurangannya di limbah dengan pembakaran sampah saja. Jadi perlu itu di benahi saja,” bilang nya.

Kepala Dinas Kesehatan Provinsi  juga harus mengambil langkah-langkah kalau perlu dimasukan dalam tahun anggaran ini, untuk menari lokasi yang pas untuk pembakaran saja. Yulianus Imbiri  melihat ceropong yang dibuat ini terlalu rendah, ketika saat pembakaran angina tiup langsug masuk dalam rumah.

“Jadi ada kendala-kendala yang kita lihat, makanya beberapa kali kita lihat ada pembakaran langsung tutup jendela rumah, tapi baunya tajam, karena itu kan bahan kimia. Karena di rumah sakit itu ada limbah kering dan limbah basah, dua hal ini yang perlu diperhatikan,”tutupnya. (get)

Bagikan :

News Feed