oleh

Jadi Polemik, Pengangkatan Pangdam Sebagai Kepala Suku Besar Tak Ada Unsur Paksaan

Wamena-Kawattimur, Kepala Suku Besar Wilayah Omarekma, Alex Doga mengungkapkan, pengangkatan Pangdam XVII/Cenderawasih sebagai Kepala Suku Besar yang dilakukan Rabu (26/9/2018) di Distrik Silo Sukarno Doga, sama sekali tidak ada unsur pemaksanaan dan semua itu dilakukan guna peningkatan kesejahteraan masyarakat di Jayawijaya.

Hal itu disampaikan Kepala Suku Besar Wilayah Omarekma, Alex Doga Jumat (28/9/2018) saat menggelar konferensi pers bersama 5 kepala suku besar lainnya di Jayawijaya tepatnya di salah satu Hotel yang ada di Wamena.

Menurutnya, pengangkatan Pangdam XVII/Cenderawasih yang dilakukan 5 kepala Suku Asal Jayawijaya merupakan timbul dari inisiatif dan pikiranya, dengan tujuan agar Bapak Panglima dapat melihat masyarakat yang ada di Jayawijaya terutama dalam peningkatan infrastruktur dan pembangunan.
“Kami ingin agar pegunungan ini dilihat lebih dari daerah lain, jadi hal yang diberikan sebagai tanda kehormatan menjadi kepala suku besar pegunungan ini agar bisa melobi untuk mensejahterakan khususnya di Jayawijaya umumnya di seluruh pegunungan tengah Papua,” kata Alex Doga.
Kata Alex, masyarakat jangan berharap hanya kepada pemerintah saja, namun semua lini harus di coba, salah satunya ialah melalui TNI, tentunya untuk tujuan dan kepentingan masyarakat banyak.

“TNI diharap bisa menerobos hingga ke pusat demi kesejahteraan masyarakat, tidak merugikan rakyat karena kami tahu adat dan budaya,” jelas Alex.
Dijelaskan, terkait penyerahkan tanah kepada TNI, itu merupakan tanah milik dirinya, dengan tujuan agar lokasi yang diserahkan dapat dijadikan pilot project dalam mengembangkan dan membuka lahan pertanian dengan bekerjasama dengan TNI.

“Jadi lebih digunakan untuk kesejahteraan masyarakat, entah itu untuk pertanian atau membangun apa saja, sehingga diserahkan ke Pangdam, terus kenapa saya punya orang tua pejuang, tokoh Pepera kenapa pemerintah tidak bisa lihat saya punya masyarakat, sehingga sebagai kepala suku saya tidak tinggal diam,” kata Alex Doga.
Agus Nikilik Huby Ketua Lembaga Masyarakat Adat (LMA) Distrik Wamena dan juga kepala suku besar di Wamena mengatakan, diangkatnya atau dikukuhkan Pangdam menjadi kepala suku besar pegunungan tengah Papua merupakan tindakan yang sudah benar dan murni dilakukan atas kesadaran dan tanpa ada pemaksaan.

Dikatakan, pengangkatan Pangdam XVII/Cenderawasih merupakan tindakan murni tanpa ada hubungan dan keterkaitannya dengan politik atau hal lain.
“Apa yang disebutkan selama ini soal pengukuhan ini kami menolak, karena ini dilakukan murni adat tidak masuk dalam kegiatan di luar dari itu,” kata Nikilik.
Terkait komentar-komentar miring terhadap kegiatan pengangkatan Pangdam XVII/Cenderawasih sebagai kepala suku, dirinya menegaskan untuk tidak perlu memberikan komentar-komentar kepada tua-tua adat, karena pengangkatan Pangdam sebagai kepala suku besar pegunungan tengah sudah dilakukan komunikasi antara tua-tua adat dengan provinsi.

“Kami ingin maju agar bisa disamakan dengan daerah lain, makanya kami buat ini dengan maksud yang cukup tinggi, kalau memang mau tanyakan kepastiannya langsung ke tua-tua adat,” kata Agus Nikilik.

Sementara itu, kepala suku lainnya, diantaranya Wesakin Asso, Dominicus Mabel memberikan dukungannya terhadap pengangkatan Pangdam sebagai kepala suku besar pegunungan.
Menurut Wesakin, pemberian gelar ini lebih kepada agar bisa menyampaikan aspirasi masyarakat yang ada di Kabupaten Jayawijaya dan pegunungan tengah Papua.(NP)

Bagikan :

News Feed