oleh

Dua Murid SMA Gagal Ikuti USBN Karena Mati Dibunuh Oknum TNI

Wamena Kawat Timur, – Dua Pelajar kelas III SMA Negeri II Mbua terpaksa gagal mengikuti Ujian Sekolah Berstandar Nasional (USBN) karena keduanya telah meninggal dunia akibat dibunuh oleh Oknum TNI yang ditugaskan di Wilayah Kabupaten Nduga tepatnya Distrik Mbua Kabupaten Nduga.

Tim Investigasi Koordinator Jayawijaya, Pdt. Esmon Walilo, mengungkapkan, yang menjadi barometer bagi Gereja dan tim Investigasi ialah dibunuhnya dua murid atas nama Nikson Umangge dan Selfina Lokbere.

“Sudah dibunuh, itu ditembak oleh oknum TNI, jadi sayaminta maaf dan ini sudah diinvestigasi langsung ke lapangan oleh Pak Theo Hesegem,” ungkap Esmon Walilo.

Dirinya berkeyakinan, anak-anak yang ada saat ini adalah generasi penerus dimasa depan yang dapat menggantikan pucuk kepemimpinan yang ada di Kabupaten, namun yang terjadi saat ini malahan sebaliknya karena situasi dan keamanan di Mbua kacau.

Situasi Anak-Anak Sekolah Di Lokasi Pengungsian Saat Duduk Untuk Menerima Jatah Makan Siang

Menurutnya, jika anak-anak sekolah yang ada dan telah mengungsi di Jayawijaya dipaksa untuk ditarik kembali ke Mbua, maka sudah seharusnya pasukan yang bertugas di Mbua dan sekitarnya harus segera ditarik.

“Kalau kita bawa mereka kembali, pastinya mereka akan berhadapan dengan moncong senjata, karena yang dua yang ditembak oleh Oknum TNI itu ternyata murid di SMA Mbua, bukan OPM,” ungkap Esmon.

Selain itu, jika anak-anak seklah dipaksa untuk harus kembali ke Mbua, tentunya akan menjadi ancaman, baik terancam dari pihak TPN-OPM maupun terancam dari pihak TNI yang saat ini bertugas di daerah itu.

Menurutnya, jika pasukan yang saat ini bertugas di Mbua dan 16 Distrik terdekat, maka 16 Distrik yang ada di Wilayah Mbua akan menjadi Kampung Kosong, karena operasi yang dilakukan tidak ada batas habis waktunya.

Selain itu, terkait pembangunan jalan Trans Jayawijaya Nduga, Esmon menjelaskan telah terjadi pelanggaran HAM, karena hak ulayat warga yang mendiami daerah tersebut tidak diakomodir atau dibayarkan oleh Negara.

“Jadi masalah hak Ulayat ini juga Negara harus selesaikan dan dibicarakan lewat duduk bersama di Honai, namun sampai hari ini belum ada penyelesaian yang diselesaikan negara,” kata Esmon.

Menurutnya, warga Nduga adalah masyarakat yang ada di dalam Negara Kesatuan Indonesia, sehingga sangat pantas jika manusia yang mendiami daerah tersebut dihargai sama degan warga Indonesia yang lain.
Ditambahkan, semua yang terjadi di Nduga harus diselesaikan dan bermuara di Jakarta, dalam arti harus bertatap muka dengan Presiden dan pertemuan tersebut harus melibatkan Tokoh Gereja, Relawan, Tim Investigasi dan pemerintah, agar ada titik terang penyelesaian permasalahan di Kabupaten Nduga.

Sementara itu, Kepala SMA Negeri 2 Mbua, Daniel Kayame mengungkapkan, pelaksanaan USBN seharusnya diikuti oleh 17 murid, namun untuk hari pertama hanya dapat diikuti oleh 13 orang Murid.

Diakui, dari 17 orang murid yang harusnya mengikuti USBN, 2 orang murid terpaksa tidak dapat mengikuti ujian, karena telah ditembak pasca baku tembak yang terjadi antara TNI dan TPN-OPM di Mbua Kabupaten Nduga, sedangkan dua murid atas nama The dan Renol saat ini belum diketahui tempat tinggalnya di Wamena, namun untuk kedua siswa tersebut akan mengikuti Ujian Susulan.

“Mereka tetap kita akomodir dalam juknis susulan, kalau pun hari ini tidak hadir ya besok kita kasih,” ungkap Daniel.
terkait UN, hari ini bapak ibu bisa lihat bahwa hari ini bisa menentukan kesiapan kita selanjutnya pada UNKP. kita siap melaksanakan di wamena di tempat seperti ini.

Untuk kesiapan dan persiapan pelaksanaan Ujian sendiri, Daniel memastikan, dirinya sebagai penanggungjawab USBN Kabupaten Nduga sudah siap dan proses Ujian tetap terlaksanan walaupun berada di tempat pengungsian.(NP)

Bagikan :

News Feed