oleh

KONI Papua Gelar Training Of Trainers (TOT)

JAYAPURA Kawattimur,- Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Papua, melalui Bidang Pembinaan Dan Prestasi, menggelar Training Of Trainers (TOT) yang berlangsung di salah satu hotel di Jayapura, Rabu 20 Maret 2019.

“Prestasi Atlet ada ditangan Pelatih. Seorang pelatih jika ingin atletnya juara harus punya strategi. Tanpa strategi jangan berharap atlet yang ditangani bisa juara,” kata pemateri dari pusat Paulus L. Pesurnay kepada semua pelatih cabor yang hadir di TOT, Rabu, 20 Maret 2019.

Dirinya menambahkan selain itu, seorang pelatih harus memiliki mimpi dan tujuan yang hebat untuk melahirkan seorang atlet jadi juara. “Jadi jangan pernah menyalahkan atletnya jika tidak bisa berprestasi. Salahkanlah diri sendiri karena tidak mampu melahirkan atlet juara yang handal dan hebat,” tuturnya.

Pada acara Training Of Trainers (TOT) dengan Tema Pelatih Unggul, atlet Juara di Hotel Sahid, Rabu 20 Maret 2019. Turut hadir Kasdam XVII/ Cenderawasih. Brigjen TNI, Irham Waroihan juga sebagai ketua Puslatprov PON XX Tahun 2020.

Pengurus KONI, masing-masing pelatih cabor terukur. ” Saya minta semua pelatih secara serius dapat mengikuti pelatihan. Karena TOT ini sangat penting untuk diikuti pelatih dalam menyiapkan atlet juara di PON XX Tahun 2020 di atas tanah Papua,” beber Paulus.

Lebih lanjut dikatakan, Paulus L. Pesurnay menjelaskan tidak ada waktu bagi atlet untuk latihan. Artinya seorang atlet bila ingin latihan bukan harus di lapangan yang bagus. Seorang atlet jika memang betul -betul ingin berprestasi kapan dan dimana saja bisa latihan fisik.

“Saya sudah usia 78 tahun. Sebagai mantan atlet nasional sampe sekarang saya secara rutin tiap pagi melakukan olahraga ringan. Usia 78 tahun bukan menjadi alasan buat saya untuk tidak olahraga,” kata Paulus yang mengaku menjadi atlet Nasional tahun 1967.

Paulus yang sengaja di datangkan oleh KONI Papua memberikan materi tentang Kemampuan Gerak Dasar Manusia. “Seorang pelatih barus punya mimpi dan tujuan untuk melahirkan seorang atlet berprestasi. Seorang pelatih harus punya mimpi atlet harus juara dunia. Tanpa mimpi dan motivasi ini jangan pernah berharap seorang pelatih bisa melahirkan atlet juara. motifasi disertai latihan rutin akan melahirkan atlet juara.

Kelemahan pelatih Indonesia menurut dia, terletak pada daya tahan dan kekuatan. Biasanya atlet Indonesia misalnya saat pertandingan bulutangkis. Set pertama Indoensia menang. Set ke dua kalah. Set ketiga minta doa, karena apa fisik atlet Indonesia tidak kuat.

“Kelemahan pelatih Indonesia pada persepsi yang salah. Pelatih Indonesia menginginkan atletnya cepat-cepat menang. Padahal fisik memiliki keterbatasan. Kecepatan hanya 10 persen. Tingkat daya tahan tubuh dikesampingkan. Sehingga jangan salah bila daya tahan fisik atlet Indonesia cepat menurun alias tidak kuat,” pungkasny.

Menurut Paulus, untuk menjadikan seorang atlet jadi juara ada 10 prinsip latihan diantaranya pertama ada harus hubungan yang optimal antara pembebanan dan pemulihan prinsip super kompensasi. Dua, pembebanan yang progresif. Ketiga, pembinaan jangka panjang. Ke empat, pembinaan dengan periodesasi. Ke lima, hubungan optimal fisik, tehnik kecabangan olahraga, taktik cabang olahraga dan peningkatan intelektual termasuk di dalamnya pembinaan psykologi terutama kemauan keras. Ke enam, hubungan antara pembinaan yang khusus dan bertambahnya latihan-latihan spesialis (cabor). Ke tujuh, latihan yang bervariasi baik isi, metode termasuk pula norma-norma beban latihan. Ke delapan, individualitas. Ke sembilan, pengukuran pengembangan /peningkatan prestasi dan ke sepuluh yakni pengulangan.”Penyebab atlet tidak maju atau tidak berprestasi. Bukan dari atlet, tetapi faktor utama ada di pelatih. Jadilah pelatih yang unggul. Oleh karena itu, seorang pelatih harus memiliki strategi. Tanpa punya strategi jangan coba-coba jadi pelatih,” tegasnya. (Ba)

Bagikan :

News Feed